Thursday, 16 March 2023

dr. Maria Endang Sumiwi, Dirjen Kesehatan Masyarakat : Penanganan Stunting, Tugas Kita Bersama

Stunting atau tengkes (kerdil), menurut WHO, merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan tinggi badan yag berada di bawah standard. Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. 


Stunting juga menjadi keprihatinan kita sebagai umat Katolik. Isu stunting diangkat dalam Surat Gembala Kardinal Ignatius Suharyo untuk menyambut Masa Prapaskah 2023 ini. Seperti dikutip dari Surat Gembala tersebut, pandemi Covid19 yang berkepanjangan, telah mengakibatkan peningkatan jumlah orang miskin di Indonesia (menjadi 26,36 juta) dengan buntut penurunan daya beli. Pada akhir tahun 2022, diperkirakan 68% penduduk Indonesia tidak mampu memenuhi gizi harian mereka. Salah satu dampaknya: angka kasus tengkes pada anak usia 12-23 bulan pada tahun 2022 meningkat, dari sebelumnya 565.479 menjadi 978.930.

Hal inilah yang jadi latar belakangan Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet menyelenggarakan webinar bertajuk Peduli Stunting. Webinar ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 Maret 2023, jam 14.00 dengan pembicara dr. Maria Endang Sumiwi, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 

Webinar diikuti oleh 80 peserta. Setelah dibuka dengan lagu Indonesia Rata dan Mars Wanita Katolik RI, termasuk sambutan dari Ketua Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI Santa Bernadet, Agnes Widi Astuti dan Anggota Presidium I Dewan Pengurus Daerah Wanita RI Jakarta, Sanny Mathilda Tapilatu. 

Webinar dipandu moderator Hendrika Yunapritta, yang mengawali dengan perkenalan sosok dr. Maria Endang Sumiwi MPH, pejabat Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat pertama yang berasal dari kalangan profesional.  Dokter Endang dilantik menjadi pejabat eselon I Kementerian Kesehatan oleh Presiden Jokowi pada bulan Maret 2022 lalu.

Selama hampir satu jam, dokter Endang menjelaskan mengenai stunting. Angka stunting di Indonesia masih relatif tinggi, yakni 21%, dibandingkan dengan Thailand (11%), atau negara-negara Eropa. Penanganan stunting ini merupakan tanggungjawab semua kalangan di Indonesia, terutama karena bonus demografi negara kita tahun 2030, saat generasi muda menjadi 65% bagian dari penduduk. Itu sebabnya, generasi muda kita harus kuat dan tidak stunting. Penanganan stunting, saat ini melibatkan 23 lembaga pemerintahan, yang menggarap berbagai aspek, termasuk penyediaan air bersih dan sanitasi. Lebih dari itu, “Penanganan stunting ini tugas kita bersama,” ujarnya.

WHO sudah membuat patokan ukuran berat dan panjang badan anak, untuk memantau status stunting ini. Stunting atau tengkes/kerdil menunjukkan secara fisik, anak tidak berkembang dengan normal. “Badan ini, bisa dibilang ‘casing’, lebih dari itu, organ dalam pun juga tidak berkembang optimal,” kata dokter Endang.

Nah, “Pemantauan status penambahan berat dan panjang bayi di Posyandu sangat penting,” tutur dokter Endang yang juga membeberkan dengan detail metode pengukuran tersebut di kartu sehat bayi. Setiap bulan, bayi harus dibawa ke Posyandu dan pertumbuhannya dicatat. Alhasil, ketika berat dan panjang tubuhnya tidak sesuai patokan WHO, bisa cepat mendapat penanganan.

 “Sebenarnya, penanganan stunting saat bayi sudah lahir itu, bisa dibilang terlambat,” jelas dokter Endang. Maka dari itu, pencegahan stunting di mulai dari masa kehamilan. Kondisi badan ibu hamil pun harus siap, sehingga ketika lahir, panjang badan anaknya minimal 48 cm.


Salah satu tantangan saat ini adalah 30% anak perempuan di Indonesia ternyata mengidap anemia. Hal ini berusaha diatasi Pemerintah, dengan memberikan suplemen penambah darah bagi anak perempuan remaja.  Kampanye konsumsi protein hewani juga digalakkan Pemerintah, untuk mereka yang usianya di bawah 18 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Dokter Endang juga menyajikan sejumlah data, salah satunya ada temuan angka stunting yang tinggi pada bayi berusia 6-12 bulan, dan 12 -23 bulan. Ini terjadi, kemungkinan besar karena gizi anak tidak lagi terpenuhi, saat mereka perlu makanan tambahan. Angka stunting bayi di bawah 6 bulan relatif rendah, karena bayi masih ASI Eksklusif. “Jadi, cooking class untuk ibu-ibu yang punya bayi itu, penting,” kata dokter Endang yang mengapresiasi program Wanita Katolik RI memberikan makanan tambahan di Posyandu terdekat.

Penyampaian materi diikuti sesi tanya jawab. Dalam salah satu pertanyaan, dokter Endang menjelaskan angka stunting yang ditoleransi adalah 2,5% di suatu negara. Ada beberapa faktor yang bukan merupakan isu kesehatan umum, seperti faktor genetika. (Tim Humas WK).

Materi Webinar PEDULI STUNTING

Pembicara : dr. Maria Endang Sumiwi, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


























 




 




Mengikuti Ekaristi Penutupan Selebrasi 100 Tahun Wanita Katolik RI

Pada Sabtu, 18 Januari 2025, beberapa anggota Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Santa Bernadet, mengikuti peray...