Wanita Katolik Republik Indonesia mengalami dinamika sendiri, termasuk dalam tingkatan dasar yang menggerakkan keseluruhan organisasi ini, yakni ranting. Lingkup Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet diperkuat oleh 24 ranting, yang pasti mengalami pasang surut dalam berkarya.
Untuk itulah,
secara periodik, Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI mengadakan seminar
Peningkatan Kualitas Organisasi (PKO). Melalui seminar ini, para pengurus dan
calon pengurus ranting diharapkan mendapat penyegaran dalam menjalankan
organisasi.
Tahun ini, PKO
diselenggarakan di Aula Besar Gereja Santa Bernadet, pada hari Minggu, 2 Juni
2024 dengan tema Menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab Dalam Organisasi dengan
Iman Katolik.
Acara dihadiri
oleh perwakilan pengurus ranting, dan disemarakkan dengan beberapa pembicara,
yakni Aloysia Ardianthy (Anggota Presidium 1 Dewan Pengurus Daerah Wanita
Katolik RI Jakarta), A. Dwi Ana Nurhandayani (Bidang Organisasi Dewan Pengurus
Daerah Wanita Katolik RI Jakarta), serta Penasehat Rohani Wanita Katolik RI
Cabang Santa Bernadet, Romo Lammarudut Sihombing, CICM.
Pada sesi
pertama, Aloysia mengingatkan kembali tentang spiritualitas Wanita Katolik RI
dengan kilas balik berdirinya sejarah organisasi ini. Organisasi Wanita Katolik
RI bermula dari keprihatinan sejumlah ibu Katolik pada diskriminasi upah buruh
pabrik rokok di Jogja.
”Spirit awal dari
para ibu ini adalah kepedulian dan keberpihakan pada yang lemah, yakni buruh
perempuan,” jelas Wiwie, panggilan dari Aloysia.
Spirit tersebut
tetap lestari dalam konteks jaman apapun, termasuk masa kini. Hal itu
diwujudkan dalam visi dan misi organisasi, dan dilaksanakan dalam keseharian
para anggotanya.
”Wanita Katolik
RI berkewajiban untuk ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa
melalui kiprahnya dalam medan pelayanan,” ujar Wiwie di tengah sesi I.
Pelayanan tersebut mengacu pada Ajaran Sosial Gereja (ASG) untuk menegakkan
harkat serta martabat manusia.
Pembicara kedua,
yakni Ana, mengingatkan kembali tugas dan kewajian masing-masing pengurus, dari
Ketua sampai anggota bidang. Ana berharap, masing-masing pengurus memahami
fungsi mereka, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART)
organisasi.
Soalnya,
”Berhasil tidaknya pelaksanaan tugas, ditentukan oleh pemahaman pada fungsi dan
tugas masing-masing dalam menjalankan organisasi,” jelasnya.
Adapun sesi
kedua, menghadirkan Romo Lamma sebagai pembicara. Romo mengangkat topik Sinergi
yang Berkualitas dalam perjumpaan dengan jajaran Wanita Katolik RI kali ini.
Sinergi, menurut
Romo, adalah panggilan untuk menjadi satu. Pemahaman ini juga bukan hal asing,
karena dalam kacamata Gereja Katolik, kita semua berziarah dalam panggilan
untuk menjadi satu. ”Semua orang bisa berbeda-beda, tapi tujuan kita sama,”
jelas Romo.
Nah, sinergi
adalah satu nilai yang harus menjadi pedoman bagi pelayanan umat di Gereja
Santa Bernadet. Sinergi adalah semangat bergerak bersama agar dampak yang baik
dari Gereja Katolik lebih bergaung dalam terdengar di masyarakat.
Sinergi
diperlukan untuk menjaga kualitas pelayanan kita di masyarakat. Tantangan
menjaga kualitas ini adalah seiring waktu, menurut Romo, sangat mungkin terjadi
penurunan karena terdistorsi kelemahan kita sebagai manusia. ”Akhirnya hilang
makna pelayanan, maka perlu penyegaran dan perjumpaan seperti ini,” kata Romo
Lamma.
.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)