Hari Pangan Sedunia, yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober 2024, juga ikut dimeriahkan di Gereja Santa Bernadet, Pinang. Tahun 2024 ini, Gereja Katolik di Indonesia mengambil tema Menghargai Pangan Lokal, Memartabatkan Petani dan Nelayan.
Dalam Surat Gembala yang dibacakan pada Minggu, 20 Oktober 2024, Kardinal Ignatius Suharyo menyatakan keprihatinannya, karena banyak kalangan petani dan nelayan yang hidupnya kurang sejahtera. Ironisnya, selama ini, pasokan pangan kita bertumpu pada mereka. Para ujung tombak pangan lokal ini menghadapi berbagai tantangan, dari perubahan iklim, lahan yang kian sempit, sampai upah kerja minimal.
Kebijakan pangan yang selama ini diterapkan, tampaknya kurang efektif, sehingga kita bergantung pada komoditas pangan impor, seperti gandum. Bisa jadi kita lebih akrab dengan roti dan mie, ketimbang olahan talas dan singkong yang banyak ditanam di Indonesia.
Maka, Kardinal menyarankan beberapa langkah konkrit untuk kembali menghargai pangan lokal dan membuat petani dan nelayan bermartabat. Salah satunya dengan cara menghargai makanan, terlebih pangan lokal. Memperkenalkan keragaman makanan lokal dan menghargai makanan kepada anak-anak dan cucu kita, penting untuk keberlanjutan pangan.
Dalam rangka perayaan Hari Pangan Sedunia ini. PSE dan Wanita Katolik RI Santa Bernadet mengkoordinir festival pangan lokal, yang digelar usai setiap misa di Gereja Santa Bernadet. Meja ditata di selasar gereja, menyambut umat yang selesai mengikuti misa, selama Sabtu, 12 Oktober dan Minggu, 13 Oktober, agar dapat mencicipi olahan pangan lokal yang disajikan oleh wilayah-wilayah di Paroki Santa Bernadet Pinang.
Theodora Aywein, Koordinator PSE Paroki Santa Bernadet mengatakan dalam rangka HPS ini, per wilayah menyediakan 250 pieces makanan dari olahan bahan pangan lokal.
"Untuk tahun ini, di luar kebiasaan lomba tumpeng usai Misa jam 08.30, maka festival diadakan setiap selesai misa, Sabtu dan Minggu," kata dia.
Ternyata, dari wilayah responnya luarbiasa. "Wilayah bebas berkreasi mau bikin apa saja boleh. Saya lihat umatnya juga menikmati. Malah banyak yang minta, tahun depan kita adakan festival seperti ini, agar merata ke semua umat," ujar Aywein yang bergandengan dengan Wanita Katolik RI Santa Bernadet mengkoordinir dan menyediakan air minum usai misa.
Eko, umat dari Hubertus, mengaku terkesan saat mengambil puding labu kuning dalam cup. "Baru sekali ini saya makan. Enak, tapi kebanyakan ini porsinya," cetusnya sambil mencuil pie labu kuning, dari Wilayah Maria.
Menurut Angel, perwakilan dari Wilayah Maria, pihaknya memilih labu kuning karena memarik. "Jadi pengen mengolahnya. Ini kami masak sendiri semua," ujar Angel yang bekerja bersama dengan Lauren, Ismi, Anggit, Nik serta Ningsih mempersiapkan puding, pie, combro rogut, dan onde-onde.
Sedangkan Devi Eko, dari Wilayah Albertus, mewakili wilayahnya dengan menyajikan olahan pempek dari tepung singkong. "Saya senang kalau makanan saya disukai orang," cetus Devi yang mengaku mengolah 6 kilogram singkong menjadi pempek belah dan pempek telur.
Yosi, warga Fabiola yang mengambil cup berisi pempek cukup terkesan saat mencicipinya. "Unik ya .. saya baru sekali makan pempek dari singkong ini," kata dia.
.jpeg)

.jpeg)
No comments:
Post a Comment