Menerapkan Pola Konsumsi Makanan Sehat
Dalam rangka Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap
tanggal 16 Oktober 2022, Bidang Pendidikan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI
Santa Bernadet mengadakan webinar dengan tema pangan. Webinar dengan narasumber
Romo Ferry Sutrisna Widjaja Pr ini mengambil tema Menerapkan Pola Konsumsi
Makanan Sehat dan Ekonomis.
Webinar diikuti oleh 79 peserta dari kalangan Wanita Katolik
RI Cabang Santa Bernadet. Dimulai jam 14 WIB, webinar dengan moderator Hendrika
Yunapritta dimulai dengan doa pembukaan (dipimpin oleh Ibu Dwi Ratnani).
Setelah sambutan dari Ibu Widi Astuti, Ketua Dewan Pengurus Cabang Wanita
Katolik RI Cabang Santa Bernadet, moderator memperkenalkan sosok Romo Ferry.
Romo Ferry merupakan salah satu pendiri Eco Learning Camp
Foundation. Beliau sangat konsern dengan isu-isu lingkungan hidup dan sejak
2014 berkarya di Eco Camp, Dago Pakar, Bandung.
Romo Ferry memulai presentasi dengan sumber-sumber polusi
yang merusak alam secara keseluruhan. Salah satu kontributor terbesar gas rumah
kaca adalah industri pertanian (24%), selain pengadaan listrik (25%). Industri
pertanian diselenggarakan secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan pangan
manusia. Di sisi lain, terjadi sistem pengolahan pangan yang tidak sehat dan
tidak adil yang dikendalikan oleh sistem politik dan ekonomi yang dikuasai
nafsu mencari keuntungan setingginya dari perusahaan-perusahaan di dunia.
Ketidakseimbangan pasokan pangan telah mengundang
keprihatinan Gereja Katolik. Pada 24 Mei 2015, dalam Ensiklik Paus Fransiskus
tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, disebutkan kebiasaan memboroskan dan
membuang (makanan) telah mencapai suatu tingkat yang belum pernah ada
sebelumnya (LS 27). Selain itu, kita
tahu bahwa kurang lebih 1/3 dari seluruh makanan yang diproduksi dibuang dan
setiap kali makanan dibuang, seolah-olah kita mencuri dari meja orang miskin (LS 50).
Tidak perlu kulkas besar
Indonesia, dalam paparan Romo Ferry, merupakan juara kedua
produsen sampah pagan terbanyak di dunia setelah Saudi Arabia (Food Sustanaible Index 2018). Penduduk
Indonesia tiap tahun membuang 13 juta ton sampah makanan atau setara Rp 27
triliun, menurut data BPS 2017. Di lain pihak, kita juga mengalami
ketergantungan impor bahan pangan. Misalnya saja, Impor gandum kita, misalnya
Rp 2,7 triliun setahun, dari Ukraina dan Kanada, lantas impor kedelai (94% dari
Amerika), buah-buahan (Australia dan Thailand), dan beberapa komoditas lain.
Nah, apa yang bisa kita lakukan? Mulailah mengonsumsi
makanan organik dan bahan pangan lokal. Harga bahan pangan organik sedikit
lebih mahal, namun lebih menyehatkan. Asalkan kita punya akses pembelian, harga
bahan pangan organik tidak beda jauh dengan harga pangan biasa.
Selain itu, mulai mengurangi konsumsi daging dan ikan, perbanyak makan sayur hasil panenan lokal. Banyak mitos yang sejak dulu sudah tertanam di masyarakat, misalnya konsumsi kacang-kacangan menyebabkan asam urat. Padahal, kandungan purin terbanyak ada di jeroan. Hal ini banyak dijelaskan melalui video wawancara dengan dokter Susianto, MKM, ahli nutrisi yang mendalami gaya hidup vegetarian. Asumsi bahwa protein paling banyak ada di daging, ternyata salah kaprah. Menurut dr. Susianto, telur mengandung protein 12%-13%, daging 9%-21%, ikan 16%-23%, sedangkan tempe 34%.
Romo Ferry juga menyarankan agar selalu memasak dalam jumlah
secukupnya, bahan pangan dan masakan yang fresh adalah yang terbaik. Tidak
perlu mempunyai kulkas yang besar, karena dengan demikian kita cenderung
menyimpan makanan. Bahkan, kadang sampai lupa, hingga akhirnya makanan dan
bahan makanan itu kadaluwarsa dan dibuang.
Acara webinar ini ditutup sekitar pukul 15.50 dengan doa
oleh Ibu Elianti Kirana dan berkat penutup dari Romo Ferry.


No comments:
Post a Comment