Wednesday, 8 July 2020

PELATIHAN KEPEMIMPINAN




Pemimpin yang Melayani


Minggu, 28 Juni 2020 Pukul 12.30 – 15.30 WIB Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet mengadakan Pelatihan Kepemimpinan dengan tema Pemimpin yang melayani  lewat Zoom. Pelatihan ini diikuti oleh Ketua dan Wakil Ketua ranting,  Pengurus Cabang serta didampingi anggota DPH Bp. Joannes. Materi dibawakan oleh Romo Lamma selaku Pendamping Rohani Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet, dan Ibu Agnes Widiastuti selaku Wakil Ketua 1 Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet. Pelatihan Kepemimpinan yang diadakan lewat Zoom ini, diikuti oleh 49 peserta yang terdiri,  29 ranting (Yohanes, Sesilia 2, Thomas 2 & 3, Albertus 1 & 2, Albertus 3, Ign. Loyola, Antonius 1,Maria, Isidorus, Hubertus, Theresia, Monika, Fabiola 4 & 5, Agustinus, Petrus 1, Petrus 2, Petrus 3, Paulus 2,  Paulus 5&6) dan 20 peserta dari Cabang  Wanita Katolik RI Santa Bernadet .

Dalam Sambutannya  Ibu Stephanie selaku Ketua Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet,  mengatakan selama pandemi berlangsung kegiatan Wanita Katolik RI yang membutuhkan kehadiran praktis lumpuh karena kondisi kita seperti  ini mau tidak mau suka tidak suka seluruh kegiatan kami harus menyesuaikan diri menuju era new normal dimana membutuhkan skill dibidang teknologi. Kami sangat berharap ibu-ibu bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Adapun program pelatihan kepemimpinan yang kami jadwalkan seharusnya tanggal 26 April yang lalu adalah program rutin yang kami lakukan setelah pelantikan para pimpinan ranting dan dewan pengurus cabang yang didahului dengan pelatihan Peningkatan Kualitas Organisasi (PKO) dengan tujuan membekali mereka. Dalam melaksanakan Program ini kami bekerja sama dengan bidang organisasi dan bidang pendidikan.

Bp. Joannes selaku pendamping DPH mengatakan, latihan kepemimpinan ini akan mengajarkan teknik-teknik motivasi dan mendorong teman-teman yang ada dibawah tanpa harus membuat mereka menjadi tertekan dan stress apalagi judulnya Pemimpin yang melayani yang diilhami oleh Injil. Walapun masih masa pandemi Bp. Joannes berharap Wanita Katolik RI  bisa bekerja dengan baik.  
Menjadi pemimpin tidak berarti jadi bos yang bebas memerintah dan menyuruh-nyuruh. Sebaliknya, pemimpin sebaiknya melayani. Hal ini dicontohkan oleh Yesus yang membasuh kaki murid-muridnya. Waktu itu, membasuh kaki orang lain adalah hal yang hina dan memalukan, namun sebagai Guru, Yesus tidak sungkan melakukannya.

Contoh di atas disampaikan oleh Romo Lammarudut Sihombing CICM dalam Latihan Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Santa Bernadet Ciledug. Pemimpin dalam organisasi Katolik, berarti juga harus berakar pada Roh Kudus. Pasalnya, sebagai pemimpin, kita juga memiliki keterbatasan duniawi. Menurut Romo Lamma, pemimpin yang baik harus mampu menghadirkan Allah dalam hidup sehari-hari. Apa itu? “Antara lain perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Kalau menjadi pemimpin, tapi tidak ada perdamaian, itu belum menghadirkan Allah,” jelas Romo dalam pemaparannya.

Punya sifat yang universal, juga wajib dimiliki oleh pemimpin. Artinya, ia mampu membuka diri, menerima perbedaan, meski tidak cocok dengan pendapatnya. “Perbedaan itu bagus, karena berarti ada orang lain yang melihat dari sudut pandang berbeda. Pemimpin itu harus inklusif,” begitu salah satu poin yang disampaikan oleh Romo Lamma.

Romo menggarisbawahi aktivitas Wanita Katolik, karena menurut beliau, aktivitas ini luarbiasa, karena lintas bidang, termasuk di panggung politik. Alhasil, menjadi pemimpin yang inklusif merupakan hal ideal lantaran tantangan organisasi yang mengharuskan para anggotanya terlibat di masyarakat umum yang beragam latarbelakang.

Menjawab pertanyaan dari Ibu Ika, Ranting Fabiola 4 & 5, mengenai penerimaan masyarakat yang berbeda pada tawaran pelayanan, Romo mengatakan harus sabar dan tidak putus asa. “Jalin komunikasi terus, jangan putus asa. Barangkali periode kepengurusan ini baru bisa memberikan dasar dengan komunikasi, ya enggak masalah,” ujar Romo yang juga sharing tentang bagaimana membina jaringan komunikasi ketika kita menjadi minoritas.

Lebih dari itu, pesan Romo menanggapi pertanyaan dari Ibu Stephanie Natalia Sutedjo, Ketua Wanita Katolik RI DPC Bernadet tentang membagi waktu antara aktivitas dan keluarga, tetap keluarga yang nomor satu. “Sebaiknya prioritas melayani keluarga dulu, baru nanti beraktivitas di luar,” pesan Romo Lamma.

Berikutnya, Ibu Agnes Widiastuti menyampaikan mengenai praktek pemimpin yang melayani. Menurut beliau, pemimpin harus bisa memberikan contoh. Pemimpin dan kepemimpinan, Pemimpin bukan dilahirkan tapi diciptakan, sebenarnya tidak ada orang yang dilahirkan hanya untuk memimpin tetapi pemimpin itu diciptakan, siapa yang menciptakan?  Kita sendiri. Apalagi kita sebagai ibu-ibu sudah menjadi pemimpin contohnya memimpin anak-anak kita, keluarga, megatur menu makanan, seharusnya tidak ada ibu-ibu yang tidak bisa memimpin. Kalau Kepemimpinan harusnya kita memandang sebagai seni untuk mencapai sesuatu sehingga tidak membuat kita tertekan. Seorang Pemimpin tidak boleh menyerah.  Mengandung sebuah makna hrs ada usaha untuk bisa mencapainya.

Peran pemimpin adalah

1.     Menciptakan visi
·   Jelas ini adalah untuk memberikan arah dan tujuan karena tanpa visi kita ngawur karenayanpa visi akan memperbanyak masalah.
·  Membangun visi yang sama jadi segala resiko2 bisa kita hadapi bersama dan mengkomunikasikan dengan baik kepada anggota
·   Sebagai anggota WK pelayan kita secara universal adalah faktor kemanusiaan atau nilai2 kehidupan. Secara spiritual kita menjalankan ajaran gereja.

2.   Membangun tim  
·         Bisa di Ranting, Lingkunagan dll membangun tidak berlawanan dengan merusak.
·         Semua harus be positif, perlu ketahanan diri
·         Membuat tim kita menjadi punya harapan

3.    Memberi penugasan sesuai kematangan pekerjaan dan psikologis tim
·    Dalam memberi penugasan kita harus melihat mereka seperti apa kematangannya   secara job decs dan secara psikologis

4.      Mengembangkan tim
·  Harus memikirkan hal apa saja yang membuat  teman-teman kita menjadi bisa berkembang tentu ada harga yg harus kita bayar, sedapat mungkin tidak mengambil alih kalau ada temen kita yg tdk bisa mengerjakan. Kita harus memberi pendampingan dan memberitahu secara pelan-pelan bagaimana cara mengerjakannya.
·     Menjadi Pemimpin harus berani gagal karena dengan gagal kita bisa belajar banyak kita tahu apa yang kita bisa dan apa yang tidak kita bisa. Jadi jangan takut gagal.

5.     Memberikan motivasi.
·     Dalam setiap organisasi sangat perlu motivasi tim. Kita hrs bisa memotivasi diri sendiri dan memotivasi tim.
·    Jangan pernah takut untuk memimpin asal kita selalu bersama dengan Tuhan karena Tuhan selalu menyertai kita, dan akan memampukan kita dalam setiap

Adapun karakter pemimpin idealnya adalah mau belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan, membawa energi positif (tidak mengeluh, memahami teman-teman kita), punya loyalitas (tidak ada syarat dalam melakukan sesuatu dan tidak menuntut) serta mampu menciptakan pemimpin baru. 

Pemimpin yang melayani, Melayani adalah mengerjakan sesuatu agar orang lain terbantu dan bahagia, posisi orang yang melayani selalu dibawah orang yang dilayani.

Seorang pemimpin hrs bisa melihat apakah bisa mengikuti dan memberikan motivasi bahkan contoh untuk mencapai tujuan.

Ilustrasi dengan pekerjaan versus pelayanan, Seorang Ibu sedang mengendong bayi seperti itu adalah pekerjaan merawat bayi atau melayani.
Seorang ibu mengendong bayi katakanlah berat 6 kg bayangkan dengan ibu yang membawa karung beras 6 kg, berat mana bayi atau beras. Pastilah berat beras. Karena pada saat kita membawa karung beras 6 kg kita mengannggap bahwa itu suatu pekerjaan, sehingga yang terbayang dalam pikiran kita harus mengangkat beras ini dari warung ke rumah dan kita harus mendapatkan beras ini. Kalau kita mengendong bayi kita include ada keiklasan, cinta kasih, tulus, bersyukur, penuh suka cita, berbagi harapan dan muncul kegembiraan. Pada saat membawa beras tidak gembira karena terenggah-enggah dan pegel.

Jadi Kalau kita menjadi pemimpin dalam Wanita Katolik RI dan sebagai pemimpin dimanapun, kalau kita maknai sebuah pelayanan itu akan menjadi Sukacita, damai sejahtera dan ungkapan syukur sebaliknya kalau kita melihat sebagai tugas dan pekerjaan itu akan sangat berat laporannya.

Akhir kata Ibu Widi menggarisbawahi slogan dari Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi pemimpin harus di depan bisa memberi contoh berani, mengambil resiko dan berani membuka jalan, Ing Madyo Mangun Karso harus berani bergabung dengan satu tim tidak hanya menunjuk-nunjuk, Tut Wuri Handayani bukannya pengganguran tetapi bisa menjadi motivator, support dan menjalankan dengan sukacita.

Salah satu tantangan besar dalam organisasi adalah menciptakan pemimpin baru. Kendati para Ibu yang terlibat dalam Wanita Katolik sudah terbiasa menjadi pemimpin di keluarga, toh tidak mudah mencari sosok yang mau beraktivitas di luar. Ini disampaikan oleh Esti dari Ranting Loyola. “Bagaimana mencari pengganti, karena saya sudah 2 periode menjadi Ketua?” ujarnya.

Hal yang sama, ternyata terjadi juga di beberapa tempat. Ibu Nawang  memberikan masukan, sebaiknya berbagi tugas dari yang kecil dulu, misalnya ketua arisan. “Sehingga orang menjadi terbiasa dan tidak keberatan mendapat tugas yang lebih besar,” katanya. *

Kesan setelah mengikuti latihan kepemimpinan :


Ibu Rahayu dari Ranting Antonius I. Setelah saya mengikuti Pelatihan Kepemimpinan  lewat zoom meeting yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet. Acara ini sangat bermanfaat dan berguna sehingga membuat kami sebagai pengurus ranting baik sebagai ketua maupun wakil ketua lebih memahami menjadi seoran pemimpin yang baik serta menjadi pemimpin yang seimbang dalam mengatur waktuk untuk keluarga dan organisasi. Terima kasih untuk kesempatan ini semoga pertemuan yang akan datang bisa terus dilakukan dan dilakukan seperti waktu-waktu sebelumnya. Dan semoga kita semua diberi kesehatan. Tuhan memberkati Amin.


Ibu Fransisca Minna dari Ranting Monika. Bersyukur bisa mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Wanita Katolik RI cabang Bernadet, setelah mengikuti pelatihan ini saya pribadi semakin mengerti tugas seorang pemimpin yang berat tetapi jika dilakukan sebagai suatu wujud pelayanan maka bisa kita jalankan dengan baik, tentunya dengan dukungan dan kerjasaman dari temen-temen di ranting, semoga saya dapat menerapkan dan menularkannya apa yang saya dapatkan dari pelatihan hari ini kepada temen-temen saya di ranting, agar mereka tidak takut untuk menjadi pemimpin bila kelak dikemudian hari harus menjadi ketua ranting semoga pelatihan ini dapat dilakukan kembali ssecara berkala agar kami yang belum mengerti semakin dikuatkan. Amin



Ibu Gilar dari Pengurus Cabang Bidang Pendidikan. 
Acara ini sangat bermanfaat dan sangat menginspirasi khususnya bagi kami sebagai pengurus untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dan lebih dapat mengatur waktu untuk keluarga, pekerjaan ataupun organisasi. Terima kasih untuk kesempatan ini dan kepada nara sumber yg begitu luar biasa semoga pertemuan seperti ini dapat terus  diadakan.


Teks : Ika & Maya / Foto : Maya




































































































































































No comments:

Post a Comment

Mengikuti Ekaristi Penutupan Selebrasi 100 Tahun Wanita Katolik RI

Pada Sabtu, 18 Januari 2025, beberapa anggota Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Santa Bernadet, mengikuti peray...