Pemimpin yang Melayani
Minggu, 28 Juni 2020 Pukul 12.30 –
15.30 WIB Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet mengadakan Pelatihan
Kepemimpinan dengan tema Pemimpin yang melayani lewat Zoom. Pelatihan ini diikuti oleh Ketua
dan Wakil Ketua ranting, Pengurus Cabang
serta didampingi anggota DPH Bp. Joannes. Materi dibawakan oleh Romo Lamma
selaku Pendamping Rohani Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet, dan Ibu Agnes
Widiastuti selaku Wakil Ketua 1 Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet.
Pelatihan Kepemimpinan yang diadakan lewat Zoom ini, diikuti oleh 49 peserta
yang terdiri, 29 ranting (Yohanes, Sesilia
2, Thomas 2 & 3, Albertus 1 & 2, Albertus 3, Ign. Loyola, Antonius
1,Maria, Isidorus, Hubertus, Theresia, Monika, Fabiola 4 & 5, Agustinus,
Petrus 1, Petrus 2, Petrus 3, Paulus 2, Paulus 5&6) dan 20 peserta dari
Cabang Wanita Katolik RI Santa Bernadet .
Dalam Sambutannya Ibu Stephanie selaku Ketua Wanita Katolik RI
Cabang Santa Bernadet, mengatakan selama
pandemi berlangsung kegiatan Wanita Katolik RI yang membutuhkan kehadiran
praktis lumpuh karena kondisi kita seperti ini mau tidak mau suka tidak suka seluruh
kegiatan kami harus menyesuaikan diri menuju era new normal dimana membutuhkan skill
dibidang teknologi. Kami sangat berharap ibu-ibu bisa menyesuaikan diri dengan
kondisi yang ada. Adapun program pelatihan kepemimpinan yang kami jadwalkan
seharusnya tanggal 26 April yang lalu adalah program rutin yang kami lakukan
setelah pelantikan para pimpinan ranting dan dewan pengurus cabang yang didahului
dengan pelatihan Peningkatan Kualitas Organisasi (PKO) dengan tujuan membekali
mereka. Dalam melaksanakan Program ini kami bekerja sama dengan bidang
organisasi dan bidang pendidikan.
Bp. Joannes selaku pendamping DPH
mengatakan, latihan kepemimpinan ini akan mengajarkan teknik-teknik motivasi
dan mendorong teman-teman yang ada dibawah tanpa harus membuat mereka menjadi
tertekan dan stress apalagi judulnya Pemimpin yang melayani yang diilhami oleh
Injil. Walapun masih masa pandemi Bp. Joannes berharap Wanita Katolik RI bisa bekerja dengan baik.
Menjadi pemimpin tidak berarti jadi
bos yang bebas memerintah dan menyuruh-nyuruh. Sebaliknya, pemimpin sebaiknya
melayani. Hal ini dicontohkan oleh Yesus yang membasuh kaki murid-muridnya.
Waktu itu, membasuh kaki orang lain adalah hal yang hina dan memalukan, namun
sebagai Guru, Yesus tidak sungkan melakukannya.
Contoh di atas disampaikan oleh Romo
Lammarudut Sihombing CICM dalam Latihan Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh
Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Santa Bernadet Ciledug. Pemimpin dalam
organisasi Katolik, berarti juga harus berakar pada Roh Kudus. Pasalnya,
sebagai pemimpin, kita juga memiliki keterbatasan duniawi. Menurut Romo Lamma,
pemimpin yang baik harus mampu menghadirkan Allah dalam hidup sehari-hari. Apa
itu? “Antara lain perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Kalau menjadi
pemimpin, tapi tidak ada perdamaian, itu belum menghadirkan Allah,” jelas Romo
dalam pemaparannya.
Punya sifat yang universal, juga
wajib dimiliki oleh pemimpin. Artinya, ia mampu membuka diri, menerima
perbedaan, meski tidak cocok dengan pendapatnya. “Perbedaan itu bagus, karena
berarti ada orang lain yang melihat dari sudut pandang berbeda. Pemimpin itu
harus inklusif,” begitu salah satu poin yang disampaikan oleh Romo Lamma.
Romo menggarisbawahi aktivitas Wanita
Katolik, karena menurut beliau, aktivitas ini luarbiasa, karena lintas bidang,
termasuk di panggung politik. Alhasil, menjadi pemimpin yang inklusif merupakan
hal ideal lantaran tantangan organisasi yang mengharuskan para anggotanya
terlibat di masyarakat umum yang beragam latarbelakang.
Menjawab pertanyaan dari Ibu Ika,
Ranting Fabiola 4 & 5, mengenai penerimaan masyarakat yang berbeda pada
tawaran pelayanan, Romo mengatakan harus sabar dan tidak putus asa. “Jalin
komunikasi terus, jangan putus asa. Barangkali periode kepengurusan ini baru
bisa memberikan dasar dengan komunikasi, ya enggak masalah,” ujar Romo yang
juga sharing tentang bagaimana membina jaringan komunikasi ketika kita menjadi
minoritas.
Lebih dari itu, pesan Romo menanggapi
pertanyaan dari Ibu Stephanie Natalia Sutedjo, Ketua Wanita Katolik RI DPC
Bernadet tentang membagi waktu antara aktivitas dan keluarga, tetap keluarga yang
nomor satu. “Sebaiknya prioritas melayani keluarga dulu, baru nanti
beraktivitas di luar,” pesan Romo Lamma.
Berikutnya, Ibu Agnes Widiastuti menyampaikan
mengenai praktek pemimpin yang melayani. Menurut beliau, pemimpin harus bisa
memberikan contoh. Pemimpin dan kepemimpinan, Pemimpin bukan dilahirkan tapi
diciptakan, sebenarnya tidak ada orang yang dilahirkan hanya untuk memimpin
tetapi pemimpin itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Kita sendiri. Apalagi kita sebagai ibu-ibu
sudah menjadi pemimpin contohnya memimpin anak-anak kita, keluarga, megatur
menu makanan, seharusnya tidak ada ibu-ibu yang tidak bisa memimpin. Kalau Kepemimpinan
harusnya kita memandang sebagai seni untuk mencapai sesuatu sehingga tidak membuat
kita tertekan. Seorang Pemimpin tidak boleh menyerah. Mengandung sebuah makna hrs ada usaha untuk
bisa mencapainya.
Peran pemimpin adalah
1. Menciptakan visi
· Jelas
ini adalah untuk memberikan arah dan tujuan karena tanpa visi kita ngawur
karenayanpa visi akan memperbanyak masalah.
· Membangun
visi yang sama jadi segala resiko2 bisa kita hadapi bersama dan mengkomunikasikan
dengan baik kepada anggota
· Sebagai
anggota WK pelayan kita secara universal adalah faktor kemanusiaan atau nilai2
kehidupan. Secara spiritual kita menjalankan ajaran gereja.
2. Membangun tim
·
Bisa
di Ranting, Lingkunagan dll membangun tidak berlawanan dengan merusak.
·
Semua
harus be positif, perlu ketahanan diri
·
Membuat
tim kita menjadi punya harapan
3. Memberi penugasan sesuai kematangan
pekerjaan dan psikologis tim
· Dalam
memberi penugasan kita harus melihat mereka seperti apa kematangannya secara
job decs dan secara psikologis
4. Mengembangkan tim
· Harus
memikirkan hal apa saja yang membuat teman-teman kita menjadi bisa berkembang tentu
ada harga yg harus kita bayar, sedapat mungkin tidak mengambil alih kalau ada
temen kita yg tdk bisa mengerjakan. Kita harus memberi pendampingan dan
memberitahu secara pelan-pelan bagaimana cara mengerjakannya.
· Menjadi
Pemimpin harus berani gagal karena dengan gagal kita bisa belajar banyak kita
tahu apa yang kita bisa dan apa yang tidak kita bisa. Jadi jangan takut gagal.
5. Memberikan motivasi.
· Dalam
setiap organisasi sangat perlu motivasi tim. Kita hrs bisa memotivasi diri
sendiri dan memotivasi tim.
· Jangan
pernah takut untuk memimpin asal kita selalu bersama dengan Tuhan karena Tuhan
selalu menyertai kita, dan akan memampukan kita dalam setiap
Adapun karakter pemimpin idealnya
adalah mau belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan, membawa energi
positif (tidak mengeluh, memahami teman-teman kita), punya loyalitas (tidak ada
syarat dalam melakukan sesuatu dan tidak menuntut) serta mampu menciptakan
pemimpin baru.
Pemimpin yang melayani, Melayani adalah mengerjakan sesuatu agar orang lain terbantu dan bahagia, posisi orang yang melayani selalu dibawah orang yang dilayani.
Pemimpin yang melayani, Melayani adalah mengerjakan sesuatu agar orang lain terbantu dan bahagia, posisi orang yang melayani selalu dibawah orang yang dilayani.
Seorang pemimpin hrs bisa melihat
apakah bisa mengikuti dan memberikan motivasi bahkan contoh untuk mencapai
tujuan.
Ilustrasi dengan pekerjaan versus
pelayanan, Seorang Ibu sedang mengendong bayi seperti itu adalah pekerjaan merawat bayi
atau melayani.
Seorang ibu mengendong bayi
katakanlah berat 6 kg bayangkan dengan ibu yang membawa karung beras 6 kg,
berat mana bayi atau beras. Pastilah berat beras. Karena pada saat kita membawa
karung beras 6 kg kita mengannggap bahwa itu suatu pekerjaan, sehingga yang terbayang dalam pikiran kita harus
mengangkat beras ini dari warung ke rumah dan kita harus mendapatkan beras ini.
Kalau kita mengendong bayi kita include ada keiklasan, cinta kasih, tulus, bersyukur,
penuh suka cita, berbagi harapan dan muncul kegembiraan. Pada saat membawa
beras tidak gembira karena terenggah-enggah dan pegel.
Jadi Kalau kita menjadi pemimpin
dalam Wanita Katolik RI dan sebagai pemimpin dimanapun, kalau kita maknai
sebuah pelayanan itu akan menjadi Sukacita, damai sejahtera dan ungkapan syukur
sebaliknya kalau kita melihat sebagai tugas dan pekerjaan itu akan sangat berat
laporannya.
Akhir kata Ibu Widi menggarisbawahi slogan dari Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara yang berbunyi Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi pemimpin harus di depan bisa
memberi contoh berani, mengambil resiko dan berani membuka jalan, Ing Madyo Mangun Karso harus berani bergabung
dengan satu tim tidak hanya menunjuk-nunjuk, Tut Wuri Handayani bukannya pengganguran tetapi bisa menjadi motivator,
support dan menjalankan dengan sukacita.
Salah satu tantangan besar dalam
organisasi adalah menciptakan pemimpin baru. Kendati para Ibu yang terlibat
dalam Wanita Katolik sudah terbiasa menjadi pemimpin di keluarga, toh tidak
mudah mencari sosok yang mau beraktivitas di luar. Ini disampaikan oleh Esti
dari Ranting Loyola. “Bagaimana mencari pengganti, karena saya sudah 2 periode
menjadi Ketua?” ujarnya.
Hal yang sama, ternyata terjadi juga
di beberapa tempat. Ibu Nawang memberikan masukan, sebaiknya berbagi tugas
dari yang kecil dulu, misalnya ketua arisan. “Sehingga orang menjadi terbiasa
dan tidak keberatan mendapat tugas yang lebih besar,” katanya. *
Kesan setelah mengikuti latihan
kepemimpinan :
Ibu Fransisca Minna dari Ranting Monika. Bersyukur bisa
mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Wanita Katolik RI cabang Bernadet,
setelah mengikuti pelatihan ini saya pribadi semakin mengerti tugas seorang
pemimpin yang berat tetapi jika dilakukan sebagai suatu wujud pelayanan maka
bisa kita jalankan dengan baik, tentunya dengan dukungan dan kerjasaman dari temen-temen
di ranting, semoga saya dapat menerapkan dan menularkannya apa yang saya
dapatkan dari pelatihan hari ini kepada temen-temen saya di ranting, agar
mereka tidak takut untuk menjadi pemimpin bila kelak dikemudian hari harus
menjadi ketua ranting semoga pelatihan ini dapat dilakukan kembali ssecara
berkala agar kami yang belum mengerti semakin dikuatkan. Amin
Ibu Gilar dari Pengurus Cabang Bidang Pendidikan.
Ibu Rahayu dari Ranting Antonius I. Setelah saya
mengikuti Pelatihan Kepemimpinan lewat
zoom meeting yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet.
Acara ini sangat bermanfaat dan berguna sehingga membuat kami sebagai pengurus
ranting baik sebagai ketua maupun wakil ketua lebih memahami menjadi seoran
pemimpin yang baik serta menjadi pemimpin yang seimbang dalam mengatur waktuk
untuk keluarga dan organisasi. Terima kasih untuk kesempatan ini semoga
pertemuan yang akan datang bisa terus dilakukan dan dilakukan seperti waktu-waktu
sebelumnya. Dan semoga kita semua diberi kesehatan. Tuhan memberkati Amin.
Ibu Fransisca Minna dari Ranting Monika. Bersyukur bisa
mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Wanita Katolik RI cabang Bernadet,
setelah mengikuti pelatihan ini saya pribadi semakin mengerti tugas seorang
pemimpin yang berat tetapi jika dilakukan sebagai suatu wujud pelayanan maka
bisa kita jalankan dengan baik, tentunya dengan dukungan dan kerjasaman dari temen-temen
di ranting, semoga saya dapat menerapkan dan menularkannya apa yang saya
dapatkan dari pelatihan hari ini kepada temen-temen saya di ranting, agar
mereka tidak takut untuk menjadi pemimpin bila kelak dikemudian hari harus
menjadi ketua ranting semoga pelatihan ini dapat dilakukan kembali ssecara
berkala agar kami yang belum mengerti semakin dikuatkan. Amin
Acara ini sangat
bermanfaat dan sangat menginspirasi khususnya bagi kami sebagai pengurus untuk
menjadi pemimpin yang lebih baik dan lebih dapat mengatur waktu untuk keluarga,
pekerjaan ataupun organisasi. Terima kasih untuk kesempatan ini dan kepada nara
sumber yg begitu luar biasa semoga pertemuan seperti ini dapat terus diadakan.
Teks : Ika & Maya / Foto : Maya






No comments:
Post a Comment