Bertepatan dengan Hari Kartini, Minggu, 21 April 2024
lalu, Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet mengadakan Cooking Class di Balai
Bernadet, Pinang. Acara tersebut diikuti oleh 21 orang utusan dari
ranting-ranting yang ada di cakupan Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet.
Cooking Class yang kali ini mengusung praktik
membuat pia crispy, dibawakan oleh Handajani, seorang pengusaha kuliner dari
Ranting Monika. Handajani, atau lebih sering dipanggil Nani, mempunyai hobi
masak. Selama ini, Nani juga terkenal dengan produknya : Sambal Nani’s.
Untuk cooking class kali ini, Nani didampingi oleh
6 ibu-ibu dari Ranting Monika. Mereka membantu masing-masing kelompok dan
langsung mempraktikkan langkah demi langkah membuat pia crispy.
Cooking class yang dipandu oleh Dwi Ratnani ini,
dimulai dengan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini bersama-sama. Setelah
doa pembukaan, ada kata sambutan dari Dewan Pengurus Wanita Katolik RI Cabang
Santa Bernadet yang diwakili oleh Bendahara, Ch. Yenny Christianita.
”Semoga cooking class kali ini bermanfaat bagi
kita semua. Selamat mengikuti,” kata Yenny, sembari mengucapkan banyak
terimakasih kepada Handajani dan ibu-ibu Ranting Monika yang berkenan membantu
dan memfasilitasi acara ini.
Para peserta cooking class dibagi menjadi enam
kelompok dan mengelilingi meja yang sudah dilengkapi dengan kompor gas, pan,
spatula, roller, serta bahan-bahan membuat pia crispy. Nani membawakan langkah
demi langkah dengan jelas, sembari berkeliling memastikan para peserta
melakukannya dengan benar. Terutama, saat menggiling dua jenis adonan, yakni
adonan tepung dan mentega, sehingga membentuk lapisan pastry yang mulus dan
tidak bocor. Alhasil, nantinya tercipa beberapa lapisan pia yang krispi.
”Menggilasnya harus pelan-pelan, agar adonan
mentega tidak bocor,” pesan Nani berulangkali.
Setelah bekerja selama dua jam, semua peserta pun
berhasil menghidangkan pia crispy mereka. Pia dengan isian cokelat, nanas,
kacang hijau ini bisa dikemas dengan plastik cantik dan layak dijual.
Lusia Kristanti, peserta dari Albertus 1,2 menyatakan
senang karena bisa menyelesaikan adonan dengan baik. ”Resepnya akurat!” kata
dia. Saat melakukan pembakaran pia dengan wajan, Lusi mengaku menuang terlalu
banyak minyak goreng. ”Bentuknya malah lebih cantik dan krispi, daripada yang
minyaknya sedikit,” sambungnya.
Sementara, menurut Eni, dari Fabiola 1,2,3,7,
awalnya ia mengira cooking class ini membuat pia seperti dalam stoples.
”Ternyata beda. Ini rasanya enak, maknyusss...” kata dia.
Bagi Yuliana
dari Sesilia 1,3,4, cooking class ini memberinya ilmu yang baru.
“Seneng banget. Isian pia juga banyak, enggak kayak yang biasa dijual,”
ujarnya.
Nah, jika Anda tertarik untuk belajar memasak
seperti ini, jangan lewatkan cooking class selanjutnya yang bakal digelar
Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet, ya! (ika)
No comments:
Post a Comment